Rabu, 14 Agustus 2013

Capek

Alkisah di suatu sore ada seorang anak datang kepada ayahnya yang sedang baca koran…

“Ayah, ayah…” kata sang anak.

“Ada apa?” tanya sang ayah.

“Aku capek, sangat capek… Aku capek karena aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus, sedangkan temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek. Aku mau menyontek saja! Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung, aku ingin jajan terus! Aku capek karena aku harus menjaga ucapanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati. Aku capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedang teman-temanku seenaknya saja bersikap kepadaku… Aku capek ayah, aku capek menahan diri… Aku ingin seperti mereka! Mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah…” sang anak mulai menangis.

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata, “Anakku, ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu.” Lalu sang ayah menarik tangan sang anak, kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang.

Sang anak pun mulai mengeluh. “Ayah, mau kemana kita? Aku tidak suka jalan ini! Lihat, sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri, badanku dikelilingi oleh serangga, berjalan pun susah karena ada banyak ilalang. Aku benci jalan ini, ayah!” Sang ayah hanya diam.

, akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.

“Waaaah… tempat apa ini, ayah? Aku suka! Aku suka tempat ini!” Sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah,” ujar sang ayah. Lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

“Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi, padahal tempat ini begitu indah?”

“Tidak tahu ayah. Memangnya kenapa?”

“Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu.”

“Ooh… berarti kita perlu sabar ya, yah?”

“Nah, akhirnya kau mengerti,” sahut sang ayah.

“Mengerti apa? Aku tidak mengerti,” timpal sang anak lagi.

“Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kejujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi. Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang, dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga, dan akhirnya semuanya terbayar kan? Ada telaga yang sangat indah. Seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa-apa anakku. Oleh karena itu, bersabarlah anakku.”

“Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar…”

“Aku tahu, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat. Ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh kami bisa mengangkatmu. Tapi ingatlah anakku, ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri, maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri dengan selalu beriman, seorang beriman yang kuat, yang tetap tabah karena ia tahu ada Allah di sampingnya, maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan di saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang. Maka kau tahu akhirnya kan?”

“Ya ayah, aku tahu. Aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini. Sekarang aku mengerti. Terima kasih, ayah. Aku akan tegar saat yang lain terlempar.” Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

Jika saat ini ada visi misi yang baik yang sedang kita jalani, namun dalam menjalaninya terasa begitu berat, percayalah… selama tujuan tersebut baik, maka Tuhan tidak akan tinggal diam. Ia akan selalu menyertai dan membimbing kita umatNya, selama kita Percaya dan Berusaha. Terapkan hal ini pada berbagai segi kehidupan, apakah itu perjuangan dalam menjalin hubungan, aktivitas pekerjaan, aktivitas belajar, dan lain-lain. Pondasikan diri kita dengan keimanan. That’s THE POWER! Karena Segala Sesuatu Akan Indah Pada WaktuNya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar