Kamis, 01 Agustus 2013

Bekerja Setengah Hati

“Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.” *Amsal 10:4, 13:4*

Seorang ibu sedang menunggu antrian di kasir supermarket. Hanya ada tiga pembeli di depannya, tetapi ia harus menunggu lama. Rupanya sang kasir menghitung barang sambil mengobrol dengan temannya yang membungkus barang. Mereka melayani pembeli dengan setengah hati.

Ketika sampai di depan kasir, si ibu bertanya, “Siapa manajermu?”

Sang kasir kaget, lalu berkata, “Maaf, Ibu menunggu lama.”

“Tidak mengapa,” jawab ibu itu, “Besok ini tidak akan terjadi lagi!”

Esok harinya sang kasir dipecat. Ia tidak tahu bahwa ibu itu adalah istri pemilik supermarket.

Banyak orang bekerja setengah hati, tanpa rasa antusias. Mereka enggan memberi yang terbaik. Yang penting dapat penghasilan. Akibatnya, hasil kerja mereka pun mengecewakan. Mental kerja seperti ini tidaklah kristiani. Upah bekerja bukan hanya uang, tetapi juga berkat Tuhan. Bentuknya bisa berupa kepuasan bekerja. Kita akan merasa diri kita berarti ketika orang lain bisa menikmati hasil karya kita. Juga kita akan disayang atasan, karena bekerja dengan loyal dan dapat diandalkan.

Pekerjaan Anda mungkin tidak menarik. Tidak sesuai hobi Anda, atau rutin dan menjemukan. Penghasilan pun mungkin minim. Namun, jangan jadikan itu alasan untuk bekerja sembarangan. Bagaimanapun, bisa bekerja adalah sebuah berkat dan kesempatan. Kerjakan itu dengan sepenuh hati, sebagai wujud ibadah yang sejati.

-BAGI YANG BEKERJA SETENGAH HATI, PEKERJAAN ITU BEBAN. NAMUN BAGI YANG BEKERJA SEPENUH HATI, PEKERJAAN ITU MERUPAKAN TANTANGAN-

Tuhan Yesus mengasihi Anda…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar