Minggu, 09 Desember 2012

Halloween Dan Perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus




Darimana asal nama Halloween? Perayaan 31 Oktober ini masih menarik untuk diperbincangkan walaupun sarat dengan okultisme.

Seperti dikutip wikipedia, Halloween merupakan kependekan dari All Hallows' Even (eve dan even sama-sama berarti petang/malam) yang berarti malam sebelum hari raya All Hallow yang sekarang disebut Hari Raya Semua Orang Kudus (All Saints Holy Day) yang telah dirayakan gereja Katholik selama 1200 tahun setiap 1 November.

Awalnya ini merupakan festival keagamaan dari tradisi paganisme Eropa yaitu festival Samhain yang dirayakan orang Kelt. Festival ini merupakan perayaan akhir musim panen, sekaligus perayaan Tahun Baru.

Dahulu mereka percaya bahwa 31 Oktober, pembatas dunia orang mati dan dunia orang hidup menjadi terbuka. Orang mati membahayakan orang hidup dengan membawa penyakit dan merusak hasil panen. Sewaktu merayakan festival, orang Gael menyalakan api unggun untuk membakar tulang-tulang dari hewan yang mereka sembelih dan mengenakan kostum dan topeng untuk berpura-pura sebagai arwah jahat.

Tradisi ini dinilai sarat dengan okultisme, sehingga para misionaris berinisiatif mengganti perayaan 31 Oktober tersebut menjadi perayaan satu malam menjelang Hari Raya Semua Orang Kudus. Awalnya perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus ini jatuh pada 13 Mei, namun oleh Paus Gregorius III dan Paus Gregorius IV perayaan tersebut diubah menjadi 1 November. Sehingga satu malam menjelang Hari Raya Semua Orang Kudus jatuh pada 31 Oktober. Penetapan ini bertujuan agar orang pagan bertobat dan mempercayai agama Kristen.

Sangat disayangkan bahwa saat ini perayaan Halloween justru dikembalikan sebagai perayaan festival Samhain, padahal sebelumnya para misionaris justru mengganti perayaan ini dengan penghormatan kepada semua orang kudus untuk menghapus praktik okultisme. Tidak ada yang salah dengan pesta kostum maupun berbagi permen dan cokelat, namun yang perlu diingat adalah, dalam konteks apa kita melakukan itu semua?


Halloween Rusak Spiritualisme Anak-Anak


Gereja Katolik Polandia baru saja menyatakan kecamannya kepada perayaan Halloween yang akan diselenggarakan di sejumlah belahan dunia esok hari, (31/10).

Menurut uksup agung Szczecin-Kamien, Halloween yang didasari "budaya kematian" telah mengajarkan paganisme.

"Kesenangan macam ini, merayu anak-anak dengan permen, memiliki dampak yang merusak pada spiritualisme, bahkan bisa menghancurkan kehidupan spiritual," ucapnya di dalam ceramah misa Minggu (28/10).

Lebih lanjut, uksup agung Szczecin-Kamien mengatakan kesenangan anti-Kristen yang tidak bertanggung jawab itu akan membawa para pemuda ke "dunia kegelapan, termasuk pemujaan setan, vampir, dan iblis" dengan alasan bersenang-senang.

Sebagaimana diketahui, Halloween merupakan perayaan beberapa negara Barat, terutama di Amerika Serikat. Di negara ini, anak-anak dan dewasa mengenakan kostum seram dan berkeliling dari pintu ke pintu sambil berkata "Trick or Treat". Anak-anak ini akan mendapatkan permen atau coklat dari rumah yang mereka datangi.

Dalam melihat suatu kebudayaan, kita perlu bijaksana, apakah kebudayaan ini bertentangan firman Tuhan atau tidak. Jangan hanya karena menganggap ini lumrah dilakukan oleh orang lain dari turun temurun maka kita pun mengikutinya. Berhati-hatilah jangan sampai kita terjebak di dalam suatu aktivitas yang justru menjauhkan kita dari Tuhan. Ingatlah, sesuatu yang baik belum tentu berguna bagi diri kita !

Gereja Katolik Mengharamkan Perayaan Halloween


Beberapa hari lalu sebuah artikel yang dimuat dalam surat kabar Vatikan, L'Osservatore Romano memberitakan mengenai ketidaksetujuan Gereja Katolik terhadap perayaan Halloween.

Menurut mereka (Gereja Katolik, red), perayaan yang khas dengan kostum-kostum menyeramkan tersebut adalah bagian dari okultisme dan anti kekristenan. Halloween membuat seseorang yang baik dapat berubah menjadi kejam.

Uskup Siguenza-Guadalajara, Jose Sanchez, menyatakan ketakutan yang dibuat oleh perayaan Halloween dapat mengubah kebiasaan seorang jemaat yang tadinya tidak memikirkan kematian akhirnya berfokus kepada hal tersebut.

Ini bukanlah kali pertama Gereja Katolik menolak perayaan kostum horor tersebut. Pada tahun 2008, melalui sebuah surat kabar di Italia, Avvenire, Keuskupan Italia menyerukan aksi boikot perayaan Halloweeen.


Kupas Tuntas Tradisi Perayaan Halloween


Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya. (Imamat 20:6)



Zaman sekarang kebanyakan orang senang dengan tayangan dan kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal mistik. Dunia sedang dihipnotis dan didorong kepada keseragaman cara berpikir bahwa hal-hal yang berkaitan dengan arwah orang mati dan setan-setan adalah hal yang biasa atau normal.

Salah satu kegiatan dan budaya yang trend dan dianggap keren namun sangat identik dengan setan, penyihir dan makhluk-makhluk menyeramkan adalah perayaan hallowen.

Halloween atau Hallowe"en adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober, dan terutama dirayakan di Amerika Serikat. Tradisi ini berasal dari Irlandia dan dibawa oleh orang Irlandia yang beremigrasi ke Amerika Utara.

Sebenarnya ada tiga tradisi dan kepercayaan dongeng yang menjadi dasar perayaan Halloween. Dibawah ini akan kita bedah kesesatan yang ada pada tradisi hallowen tersebut:

1. Tradisi dan dongeng pertama mengenai perayaan bangsa Galia kuno yang disebut Samhain. Bangsa Galia kuno percaya bahwa pada tanggal 31 Oktober, atau di hari Samhain tadi, batas antara dunia nyata dan dunia gaib akan sangat tipis, sehingga para penduduk dunia gaib dapat menyeberang ke alam kita.

Pada perayaan Samhain penduduk Galia kuno akan mengadakan perayaan besar bagi nenek moyang mereka yang sudah lama meninggal dan "mengundang" mereka untuk duduk makan bersama, sedangkan makhluk gaib yang jahat akan diusir dari kediaman mereka dengan cara menggunakan topeng dengan wajah buruk atau berdandan seperti makhluk gaib jahat tadi.

Hal yang sesat dari tradisi ini adalah: perayaan dan budaya hallowen mempercayai bahwa arwah orang yang sudah meninggal dapat diundang dan ikut makan bersama. Sementara Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan bahwa mereka yang telah mati tidak dapat pergi kemana-mana kecuali Tuhan yang hidupkan kembali atau bangkit dari kematian sama seperti Tuhan Yesus yang bangkit dari kematian. (Lukas 16:26)

2. Salah satu tradisi unik di Amerika untuk menyambut Halloween adalah Trick or Treat. Anak-anak akan berjalan dari rumah ke rumah dengan kostum unik sambil membawa keranjang, dan mengetuk pintu sambil meneriakkan "Trick or treaaaat".

Sebenarnya hal ini adalah ancaman, karena arti aslinya adalah, jika anda tidak memberikan "treat" alias makanan, kami akan melakukan "trick" atau kenakalan terhadap rumah tadi. Pemilik rumah akan keluar dan menghadiahkan berbagai makanan manis seperti coklat atau permen dalam keranjang mereka. Tradisi ini dipercaya muncul di Eropa pada abad ke 9, sebagai bentuk yang modern dari "Soul Day" yang awalnya dirayakan pada 2 November.

Pada hari "Soul Day" tadi, para pengemis akan berjalan dari desa ke desa untuk meminta "Soul Cake" yang dibuat dari potongan roti berbentuk segi empat dengan isi Currant (sejenis anggur manis). "Soul Cake" tadi adalah bayaran yang diterima oleh pengemis tadi untuk mendoakan arwah keluarga yang sudah meninggal.

Tradisi ini pun tidak sesuai dengan ajaran kekristenan. Karena Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan untuk umat-Nya mendoakan arwah yang sudah di alam baka. Bahkan Tuhan bicara dengan tegas supaya umat TUHAN tidak sedikit pun berpaling dan berbicara kepada arwah. Doa tersebut adalah doa yang sia-sia dan tidak bisa menyelamatkan mereka yang sudah ada di alam baka. (Imamat 19:31)

3. Dongeng lainnya adalah mengenai Jack O"Lantern yang berhasil menipu Setan/Iblis sehingga Jack tidak diterima di neraka namun juga tidak bisa diterima di surga karena sifat kikir, licik dan berbagai prilaku buruk yang ia miliki selama hidup. Alhasil arwah jack bergentayangan dan iblis memberikan semacam lilin atau penerang. Lilin tadi ditempatkan di dalam Turnip (sebangsa lobak).

Tradisi dan dongeng konyol ini lebih parah lagi. Sebab setiap orang yang berdosa dan tidak menerima pengampunan dari Tuhan Yesus sudah pasti ada di alam maut. Selain itu tidak mungkin iblis atau setan bisa ditipu karena Alkitab mengatakan bahwa iblis itu adalah bapak segala dusta. (Yohanes 8:44)

Alkitab dengan jelas dan tegas menolak dan menentang setiap unsur dan bentuk penyembahan kepada setan-setan. Baik penyembahan berhala, perdukunan, mantra, sihir, berkanjang pada arwah orang mati atau bersekutu dengan jin maupun roh-roh jahat, semua itu kekejian, najis dan jahat di mata TUHAN.

Dari pemaparan di atas kita bisa ambil kesimpulan sendiri apakah layak budaya eropa-amerika ini diterapkan dan menjadi bagian dari budaya kekristenan?

Perayaan Halloween Rawan Praktik Okultisme ?


Fasih mendengar istilah "Trick or treat"? Di beberapa tempat, khususnya di pusat-pusat hiburan seperti hotel, café maupun tempat hiburan lain perayaan Halloween telah menjadi trend. Seperti salah satu tempat wisata di Pantai Doubel Six, Legian, Kuta, pada Minggu (30/10) perayaan Halloween dilakukan bersamaan dengan bungge jumping Para pengunjung yang jumping diwajibkan menggunakan pakaian ala pocong, maupun hantu lainnya.

Kepada Victor Manopo dan Amel Sumendap segmen producer dari program remaja Onecubed.tv, menjelaskan mereka menolak perayaan tersebut.

"Hollowen itu penyembahan setan, lebih baik pesta normal saja atau pesta kostum biasa, tanpa harus memperingati Halloween", ucap Amel.

Selain dari sudut pandang kristiani, perayaan Halloween juga tidak sesuai dengan budaya Indonesia. "Perayaan Halloween di tempat asal nya juga cuma party-party dan foya-foya tanpa ada muatan positifnya", jelas Victor. Hal ini berbeda dengan perayaan hari kasih sayang atau Valentine, "Kalau Valentine kan masih ada positifnya, perayaannya pun harus dengan cara yang positif.", lanjut Victor.

Perayaan Halloween yang jatuh setiap tanggal 31 Oktober adalah tradisi yang berasal dari Amerika Serikat. Halloween Halloween dirayakan anak-anak dengan memakai kostum seram, dan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau cokelat sambil berkata "Trick or treat!" Ucapan tersebut adalah semacam "ancaman" yang berarti "Beri kami (permen) atau kami jahili", seperti dilansir wikipedia.

Bisa dikatakan tidak ada yang positif dari perayaan Halloween, selain bentuk penyembahan kepada iblis, perayaan Halloween akrab dengan gaya hidup hedon yang makin mempertegas kesenjangan sosial. Jika kita tidak awas, budaya asing yang masuk dan diadaptasi secara sembarangan dapat membuat kita terjebak dalam praktek okultisme. Kita membutuhkan hikmat untuk bisa memilih mana yang boleh kita ambil dan mana yang tidak. Jadi, apa tanggapan Anda tentang Perayaan Halloween ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar