Minggu, 09 Desember 2012

Doa Mark


[Inspirasi]

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit, sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan tang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".

Dorr. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.

"Ayo.. ayo.. cepat.. cepat.. maju.. maju...", begitu teriak mereka.

Ahha.. sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish-pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.

"Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?".

Mark terdiam. Lalu berkata:
"Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan". Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain. Aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.


Apa yang dapat kita pelajari dari cerita di atas?
Kadangkala (dan tanpa kita sadari), dalam hal berdoa dan berharap kita malah menjadi orang yang egois, tetapi Mark dengan bijaksananya menyadari bahwa yang harus dia minta bukanlah 'kemenangan' melainkan 'kekuatan'.
Demikian pun seharusnya, ketika masalah datang menghadang, tidaklah tepat jika kita meminta supaya masalah itu lepas melainkan mintalah topangan, kekuatan dari Tuhan, bagaimana pun masalahmu, itu tidaklah melebihi kekuatanmu, karena kita masih jauh lebih kuat dari semua masalah.

Terkadan Di Dalam Hidupmu
Persoalan Berat Menimpa
Menghancurkan Hidupmu
Meremukkan Hatimu Namun Ingatlah

Dia Tuhan Tak Akan Pernah Memberi Pencobaan
Dan Ujian Melebihi Kekuatan Yang Kaupunya
Hendaklah Bersyukur Diamelakukan Semua Kar'na Cinta
Supaya Kau Beroleh Hikmat Dan Jadi Sempurna S'perti Dia

'Pabila Tuhan Menguji Mu
Karena Diamenyayangi Mu
Laksana S'orang Bapa
Yang Mendidik Anak-Nya Kar'na Cinta-Nya

Blessing,
~HSH~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar